PENDIDIKAN NONFORMAL ITU ADA BUKAN DI ANTARA ADA DAN TIADA

Minggu, 23 Januari 2022

Berbahasa yang berbudaya

Bahasa ciciren bangsa” begitulah pepatah ki sunda yang masih dapat dijadikan referensi kita yang hidup di jaman ini.
Artinya apa ? bahwa bahasa itu akan menjadi ciri mandiri atau identitas suatu bangsa, dengan bahasa maka bangsa itu  akan mampu melakukan komunikasi dengan bangsa lain, akan mampu mempromosikan apa yang dimilikinya kepada bangsa lain dan seterusnya.
Bahasa itu sendiri merupakan salah satu unsur kebudayaan menurut KOENTJARANINGRAT. Oleh karena itu, sebagai bagian dari kebudayaan sudah tentu dalam berbahasa ada aturan/norma yang harus dipatuhi oleh pemakainya.
Dikenal ada bahasa yang sifatnya kasar dan bahasa yang sifatnya halus di mana penggunaanya tergantung kepada subyek dan obyek bicaranya.
Historisnya, nenek moyang kita sudah memberikan pembelajaran yang baik dalam penggunaan bahasa tersebut dengan mengikuti aturan yang seharusnya dipatuhi. Tidak heran kalau keturunannya mampu berbahasa yang berbudaya tersebut.
Mereka tahu harus berbahasa seperti apa ketika berhadapan dengan orang yang lebih tua, kepada orangtua, kepada sesama dan kepada orang lain di bawah kita dilihat dari aspek jabatan, status sosial serta ekonomi.
Sudah sekian generasi pembelajaran berbahasa yang berbudaya dilakukan hingga akhirnya terjadi krisis berbahasa yang berbudaya. Di jaman serba teknologi sekarang ini, generasi sekarang cenderung kurang mampu berbahasa yang berbudaya.  
Marak terjadi ujaran kebencian, menghujat dan memaki-maki orang dengan bahasa yang kurang pantas meski secara tidak langsung melalui media sosial. Ekstrimnya, generasi kita seolah-olah tidak bermoral alias tidak berbudaya. Pasti akan tersinggung dan marah kalau disebut demikian tapi faktanya seperti itu. Siapa yang salah atas kejadian ini ? dunia pendidikan kah ? orangtuakah? Lingkungan kah? Masyarakat kah? Negara kah ? 
Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional merupakan salah satu matapelajaran yang diajarkan di sekolah formal. Secara teori peserta didik banyak mengetahui tentang bagaimana cara berbahasa yang baik dengan memperhatikan tata bahasa yang berlaku.
Mungkin dalam bahasa resmi, peserta didik yang notabene adalah kaum muda mampu menggunakannya dalam keseharian. Akan tetapi ketika berkomunikasi dengan menggunakan bahasa informal, nah disitulah cenderung terjadi malpraktek.
Dalam bahasa informal kaidah tata bahasa rupanya banyak diabaikan termasuk penggunaan kata-kata pun semaunya sendiri tanpa memperhatikan apakah bahasa dari kata itu halus, sopan atau kasar. Faktanya lebih dekat kepada bahasa yang bersifat kasar.Dalam kaitan ini, Jokowi pun memberikan pernyataan agar setiap orang menggunakan bahasa yang sopan dalam media sosial.
Bagaimana dengan orangtua kita ? dengan penuh keyakinan bahwa pada umumnya orangtua kita memberikan ajaran berbahasa santun kepada anaknya meski sesekali orangtua pun berbahasa kasar ketika sedang marah termasuk ketika marah kepada sang anak.
Gejalanya, hal-hal yang negatif termasuk perkataan kasar orangtua akan mudah diingat jika dibandingkan dengan kata-kata halus. Tragisnya justru bahasa kasar itulah yang kemudian digunakan sebagai bahasa keseharian anak.`
Jika kita ingat dalam budaya sunda ada istilah hade ku basa goreng ku basa, ini bermakna bahwa orang itu akan dihargai tergantung kepada bahasa yang digunakannya. Oleh karena itu, kehati-hatian dalam penggunaan bahasa merupakan keharusan yang tidak dapat ditawar-tawar.
Ciri sensitif manusia adalah dia mempunyai perasaan. Dengan perasaan inilah munculnya kemarahan, kegembiraan, kesedihan, dan ketersinggungan. Perasaan-perasaan itu sendiri dapat disebabkan oleh penggunaan bahasa yang disampaikan oleh orang yang berbicara secara langsung berupa ucapan lisan maupun secara tidak langsung melalui media sosial.
Jika setiap orang menyadari bahwa dalam dirinya pasti ada perasaan yang tidak boleh disepelekan, maka akan terjadi harmonisasi antara orang yang satu dengan orang lainnya. Dapatlah dikatakan bahwa orang yang seenaknya berbahasa meski melalui media sosial berarti dia tidak menghargai perasaannya sendiri.
Korelasi yang seharusnya terjadi adalah semakin modern manusia maka sepatutnya semakin beradab dalam berbahasa. Malu rasanya jika kita menyandang predikat manusia modern dengan segudang kelebihan dalam pendidikan formal, kemajuan ekonomi dan kemajuan politik kalau kenyataannya dalam berbahasa saja menunjukkan suasana barbar.
Kita adalah bagian dari masyarakat bangsa dan negara dimana kehidupan kita diatur oleh yang namanya norma hukum dan norma sosial. Salah satu kewajiban kita adalah mematuhi norma dalam berbahasa. Tidak ada alasan untuk melanggar kecuali kita hidupnya pindah ke hutan belantara.
Kehadiran media sosial sebenarnya akan bagus jika kita memang pandai-pandai memanfaatkannya untuk kepentingan yang positif.  Sudah banyak yang dapat diperbuat melalui media sosial ini termasuk untuk upaya penggunaan bahasa yang berbudaya. 
Bahkan dengan media sosial ini pun kita akan mengetahui siap orang yang memang menunjukkan budaya dan siapa yang tidak. Indikator penting adalah penggunaan bahasa yang memperhatikan moralitas di media social tersebut. Niat baik setiap orang untuk menempatkan orang lain sebagaimana pantasnya dengan tidak menyinggung perasaannya akan memungkinkan yang bersangkutan untuk selalu berhati-hati dalam penggunaan bahasa.
Media sosial ibarat buku yang penuh dengan tulisan-tulisan kita yang harus diingat akan dibaca orang lain secara berulang-ulang. Penyajiannya haruslah elegan, tidak menebar kebencian akan tetapi sebaliknya menyajikan kesejukan buat orang yang menikmatinya.
Orang yang menyebar kebencian kata orang bukti yang bersangkutan memiliki ketidakmampuan menyaingi orang yang dibencinya dalam urusan prestasi. Sebaiknya, pelajari referensi terkait dengan mengapa orang itu sampai berprestasi. Ikuti jejak langkahnya bukan membencinya toh akan rugi sendiri.
Orang yang berani menyebar kebencian kepada orang lain meski melalui media social disangkanya akan aman, padahal justru akan dilacak terus oleh pihak yang berkewenangan dan pada akhirnya akan ketahuan dan tertangkap juga.
Biasakanlah bangga atas prestasi orang lain siapapun itu, dan berbuatlah yang terbaik dengan bercermin pada orang yang telah berprestasi tersebut. Optimis, hidup kita akan aman, selamat dan bahagia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar