Abstrak
Kata kunci : Literasi budaya,
peserta didik, pendidikan kesetaraan, pembelajaran sosiologi
Pendahuluan
Perbedaan esensi antara makhluk manusia
dengan makhluk lainnya adalah bahwa manusia memiliki akal budi. Dari akal budi
itulah kemudian dapat melahirkan budaya.
Budaya pun berbeda-beda dan
bermacam-macam seiring dengan beragam jenis species manusia di dunia. Di
Indonesia sendiri, budaya ada yang bersifat nasional dan ada yang bersifat
lokal yang digagas oleh para leluhur jaman dahulu.
Generasi kekinian sudah tentu berkewajiban
untuk bagaimana mengetahui, memahami, menfilter hingga melaksanakan budaya
leluhur yang dianggap positif yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Faktanya tidak seperti itu. Dalam arti,
generasi sekarang cenderung belum tahu benar mengenai budaya leluhur tersebut
secara detail. Bahkan ada yang menganggap bahwa budaya leluhur sudah
ketinggalan jaman, tahayul, mitos dan anggapan miring lainnya. Benarkah
demikian ?
Kondisi ini dapat disebut tidak
berliterasi budaya dan patut diupayakan untuk bagaimana meningkatkan literasi
budaya di kalangan generasi sekarang melalui jalur pendidikan formal maupun
nonformal.
Pendidikan kesetaraan sebagai satu
bentuk program pendidikan nonformal, dalam
pelaksanaannya membelajarkan peserta didik dalam berbagai matapelajaran. Andai
itu program Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) maka sosiologi merupakan satu
diantara sekian banyak mata pelajaran yang diajarkan.
Dalam pelajaran sosiologi tersebut ada
materi yang berhubungan dengan budaya. Dengan materi ini merupakan lahan bagi
tutor untuk memberikan peningkatan kemampuan literasi budaya kepada peserta
didiknya.
Kuncinya adalah tutor mampu
mempergunakan metode belajar dan media belajar yang tepat. Jika disampaikan
dengan mempergunakan metode belajar yang bersifat partisipatif didukung oleh
media belajar yang efektit sudah tentu materi dimaksud akan berdampak positif
di mana peserta didik akan meningkatkan kemampuan literasi budaya.
Apa yang telah dilakukan tutor dalam
proses pembelajaran sosiologi sehingga dapat meningkatkan kemampuan literasi
budaya peserta didiknya ?
Dalam kaitan ini, akan diteliti tentang
pemberian informasi budaya dengan mempergunakan metode pembelajaran yang
bersifat partisipatif dan dengan mempergunakan media belajar yang dianggap
efektif.
Kajian Teori
Menurut Alberta (2009) dalam https://www.scribd.com/document/357448366/Teori-Literasi-Buat-Yaser,
arti literasi bukan hanya sekedar kemampuan untuk membaca dan menulis namun
menambah pengetahuan, keterampilan dan kemampuan yang dapat membuat seseorang
memiliki kemampuan berpikir kritis, mampu memecahkan masalah dalam berbagai
konteks, mampu berkomunikasi secara efektif dan mampu mengembangkan
potensi dan berpartisipasi aktif dalam kehidupan bermasyarakat.
Terkait dengan pembelajaran budaya sudah
tentu melalui aktivitas pembelajaran untuk mata pelajaran yang materinya
tentang budaya. Itulah pelajaran sosiologi. Batasan materi budaya itu apa saja
? batasan materi ada pada wilayah 7 unsur kebudayaan.
Merujuk pada pendapatnya
Koentjaraningrat, bahwa ada 7 unsur kebudayaan yang sudah tentu dimiliki oleh
setiap orang yang tergabung dalam sebuah kelompok tertentu. Dalam hal ini, fokus
pada suku bangsa dan bangsa Indonesia.
Ketujuh unsur kebudayaan itu terdiri
dari : bahasa, sistem pengetahuan, sistem kemasyarakatan, sistem peralatan
hidup dan teknologi, sistem matapencaharian hidup, sistem religi dan kesenian .
Sesuai dengan teorinya bahwa materi ajar
akan berhasil mencapai tujuan yaitu peserta didik menguasai materi jika
mempergunakan media dan metode yang tepat. Metode pembelajaran yang dimaksud
adalah metode pembelajaran partisipatif.
Menurut Djudju Sudjana (1983:82) bahwa metode belajar partisipatif
merupakan metode yang mengikutsertakan warga belajar dalam proses belajar
mengajar.
Djudju Sudjana (1983:94-95) lebih lanjut mengatakan bahwa metode belajar
partisipatif yang tercermin pada kegiatan belajar partitipatif memiliki
ciri-ciri betikut :
a.
Berorientasi
pada tujuan belajar (learning goal and objective oriented)
Ciri ini mengandung arti bahwa proses kegiatan belajar
direncanakan, dilaksanakan dan diarahkan untuk mencapai tujuan belajar yang
telah ditetapkan sebelumnya. Tujuan belajar itu pun disusun dengan
mempertimbangkan latar belakang pengalaman warga belajar, potensi yang
dimilikinya dan sumber-sumber yang tersedia pada lingkungan kehidupan mereka.
Untuk itu, kebutuhan belajar, potensi dan sumber-sumber perlu diidentifikasi
terlebih dahulu supaya peserta didik dapat menikmati suasana pembelajaran yang
diikutinya
b.
Berpusat pada
peserta didik (participant centered)
Kegiatan belajar yang dilakukan disesuaikan dengan
latar belakang kehidupan peserta didik. Latar belakang kehidupan ini menjadi
perhatian utama untuk dijadikan dasar penyusunan rencana proses kegiatan
belajar baik untuk merumuskan langkah-langkah, materi, fasilitas dan evaluasi
kegiatan belajar
c. Bertolak dari pengalaman belajar
(experiential learning)
Hal ini berhubungan dengan pengalaman dalam melaksanakan
tugas atau pekerjaan tentang cara-cara belajar yang telah dimiliki peserta
didik. Dalam hal ini, proses belajar merupakan kegiatan belajar peserta didik
yang dilakukan secara bersama-sama di dalam situasi pengalaman nyata baik
pengalaman dalam tugas yang dilakukan sehari-hari maupun dengan menggunakan
pengalaman yang diangkat dari tugas atau pekerjaan mereka sehari-hari. Tepatlah
seperti dinyatakan oleh Irish Cully dalam “Aplikasi Teori Multiple
Intellegence” (Winaldi, 2007:2) pada http://my.opera.com/winaldi/blog/2007/02/14/aplikasi-teori-multiple
intelegence) bahwa people learn when they
feel themselves to be participants in the events (orang belajar ketika
mereka merasakan kebutuhannya dengan cara mereka terlibat dalam aktivitas
tersebut-penulis).
Metode ini merupakan metode yang
memungkinkan peserta didik terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran.
Jenis metode yang dapat dipergunakan antara lain: tanya jawab, diskusi, problem
solving, studi kasus, penugasan, bermain peran, cawan ikan, dan simulasi.
Ada pun media yang efektif untuk
mendukung proses pembelajaran tersebut adalah media audio visual berupa video
berdurasi singkat dengan fokus materi yang dianggap esensi.
Merujuk pada pendapatnya Abdul
majid (2007:180), “Program
video/film biasanya disebut sebagai alat bantu pandang dengar (audio visual aids/audio
visual media). Ada beberapa keuntungan yang di dapat jika materi ajar disajikan
dalam bentuk video/film, antara lain:
a.
Dengan video/film seseorang dapat
belajar sendiri
b.
Sebagai media pandang dengar
video/film menyajikan situasi yang komunikatif dan dapat diulang-ulang
c.
Dapat menampilkan sesuatu yang
detail dari benda yang
bergerak, kompleks, yang sulit dilihat dengan mata
d.
Video dapat dipercepat maupun di
perlambat, dapat di ulang pada
bagian tertentu yang perlu lebih jelas, dan bahkan dapat diperbesar
e.
Memungkinkan pula untuk
membandingkan antara dua adegan
berbeda diputar dalam waktu bersamaan
f. Video juga dapat digunakan sebagai tampilan
nyata dari suatu
adegan, mengangkat suatu situasi diskusi, dokumentasi, promosi
suatu produk, interview, dan menampilkan satu percobaan yang
berproses
Metode
Metode penelitian menggunakan m-etode
deskriptif analitik dengan teknik wawancara, studi dokumentasi dan observasi.
Populasi dan sampel adalah tutor mata
pelajaran sosiologi binaan SKB Kab. Sukabumi sebanyak 4 orang.dan peserta didik
sebanyak 20 orang.
Hasil dan Pembahasan
A. Pemberian informasi dengan metode belajar
partisipatif
Peserta didik
memperoleh informasi tentang budaya dengan beragam metode yang partisipatif
yang menarik mereka untuk terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran.
Secara berurut yang paling sering digunakan sampai yang kurang digunakan adalah
metode tanya jawab, penugasan, studi kasus, pemecahan masalah dan simulasi.
Metode tanya
jawab yang menekankan kepada inisiatif peserta didik untuk bertanya tentang apa
yang belum diketahuinya tentang budaya dan ini mencerminkan rasa keingintahuan
yang bersangkutan tentang materi yang sedang dipelajari ataupun yang
bersangkutan memberikan komentar tentang apa yang sedang dipelajari tersebut.
Ada rasa kesadaran peserta didik untuk mengungkapkan respon berupa bertanya
ataupun menjawab.
Metode penugasan
merupakan metode yang “mengkondisikan” peserta didik untuk mau memberikan
jawaban ataupun mengerjakan tugas terkait dengan materi budaya. Awalnya mungkin
seolah-olah dipaksa tetapi lama kelamaan hal itu akan menjadi bagian dari
proses yang harus dilakukan dalam rangka menguasai materi budaya tersebut.
Metode studi
kasus memberikan pembelajaran kepada peserta didik untuk menganalisis apa yang
terjadi di lingkungan sekitar terkait dengan budaya, dicari apa saja yang dapat
diambil hikmah dari kasus tersebut. Metode pemecahan masalah merupakan metode
yang memberikan penekanan kepada bagaimana mengatasi permasalahan tertentu yang
berhubungan dengan materi budaya. Sedangkan metode simulasi merupakan metode
yang memberikan pembelajaran budaya dengan bentuk permainan.
Ciri utama dari
metode belajar partisipatif adalah keaktifan peserta didik. Dalam hal ini, Menurut Sriyono dalam http;//ipotes Wordpress.com/2008/05/24/aktivitas siswa/ bahwa
aktivitas adalah segala kegiatan yang dilaksanakan baik secara jasmani atau
rohani. Aktivitas siswa selama proses belajar mengajar merupakan salah satu
indikator adanya keinginan siswa untuk belajar. Aktivitas siswa merupakan
kegiatan atau perilaku yang terjadi selama proses belajar
mengajar.Kegiatan-kegiatan yang dimaksud adalah kegiatan yang mengarah pada
proses belajar seperti bertanya,mengajukan pendapat,mengerjakan
tugas-tugas,dapat menjawab pertanyaan guru dan bisa bekerjasama dengan siswa
lain,serta tanggung jawab terhadap tugas yang diberikan.
Keaktifan siswa dalam proses pembelajaran akan
menyebabkan interaksi yang tinggi antara guru dengan siswa ataupun dengan siswa
itu sendiri.Hal ini akan mengakibatkan suasana kelas menjadi segar dan
kondusif,dimana masing-masing siswa dapat melibatkan kemampuannya semaksimal
mungkin.Aktivitas yang timbul dari siswa akan mengakibatkan pula terbentuknya
pengetahuan dan keterampilan yang akan mengarah pada peningkatan prestasi.
B. Pemberian informasi dengan media belajar yang
efektif
Peserta didik memperoleh informasi
tentang budaya dengan menyimak tayangan film video yang menekankan pesan
tertentu. Video tersebut berdurasi singkat tapi berisi pesan padat sehingga
tidak membosankan dan tidak mengesalkan menyaksikannya. Ada pun sumber video
yang diambil dari youtube, tidak membuat sendiri mengingat untuk membuat sebuah
video yang layak butuh peralatan dan keterampilan yang cukup. Paling yang
dilakukan oleh tutor adalah melakukan editing untuk bagian-bagian tertentu
disesuaikan dengan materi yang akan diajarkan dan waktu yang disetting sedemikian
rupa tidak terlalu lama tapi tidak terlalu pendek. Rata-rata 20 – 30 menit
untuk satu tayangan video. Sisa waktu pembelajaran digunakan oleh tutor untuk
melakukan pembahasan dengan penekanan pada hal-hal yang dianggap penting untuk
diketahui peserta didik.
Melalui video ini peserta didik dapat
melihat, dan mendengarkan sekaligus terkait dengan materi budaya sehingga apa
yang akan diperolehnya cukup lengkap. Apalagi kalau merujuk pada terori kerucut
pengalaman dari Edgar Dale bahwa
kemampuan mendengar manusia sebesar 20% dan kemampuan melihat sebesar 30%,
sedangkan perpaduan kemampuan mendengar dan melihat sebesar 50%. Itulah mengapa
jika dikatakan bahwa media belajar melalui video dianggap efektif dalam
memberikan wawasan budaya dalam proses pembelajaran.
C. Hasil yang diperoleh peserta didik berhubungan
dengan peningkatan literasi budaya
Peserta didik
memperoleh wawasan yang cukup luas terkait dengan budaya ditinjau dari 7 aspek
kebudayaan. Secara rinci peserta didik memperoleh peningkatan wawasan literasi
budaya berhubungan dengan produk budaya bangsa Indonesia dan produk budaya
lokal yang berwujud benda dan yang
berupa tata nilai dari 7 aspek kebudayaan. Peserta didik meningkat wawasannya
dalam hal pengetahuan produk budaya berwujud benda terkait dengan bahasa,
sistem mata pencaharian, sistem ilmu pengetahuan dan teknologi, sistem religi,
kesenian. Peserta didik meningkat wawasannya dalam hal pengetahuan produk
budaya berupa tata nilai terkait dengan bahasa, sistem pengetahuan, sistem
kemasyarakatan, sistem peralatan hidup dan teknologi, sistem matapencaharian
hidup, sistem religi dan kesenian. Sebagai penguatannya, pasca peserta didik
memahami materi budaya dilakukan evaluasi dalam kurun waktu tertentu untuk
mengetahui tingkat penguasaan bidang materi budaya tersebut. Bagi peserta didik
mau tidak mau berusaha untuk mempersiapkan diri mengulang kembali apa yang
telah dipelajari untuk mampu mengikuti evaluasi dengan hasil yang diinginkan
pada kategori minimal cukup baik. Dengan demikian, lengkap sudah kemampuan
literasi budaya peserta didik melalui proses pembelajaran dan diakhiri dengan
evaluasi belajar sehingga diperoleh data dan informasi terkait dengan sampai di
mana peningkatan literasi budaya tersebut.
Pemberian materi
7 aspek kebudayaan peserta didik sangat penting agar peserta didik tersebut
tidak akan melupakan apa yang telah menjadi dan dihasilkan oleh leluhur
terdahulu. Budaya itu sendiri menjadi kendali utama dalam membentuk karakter
generasi kekinian dan yang akan datang.
Hanya peserta
didik belum sepenuhnya mampu menghayati, menfilter dan mengimplementasikan
nilai-nilai positif budaya dalam kehidupan sehari-hari secara konsisten. Konsistensi
peserta didik baru pada tahap proses pembelajaran dalam literasi budayanya. Hal
ini dapat dipahami, bahwa perilaku keseharian dipengaruhi oleh banyak faktor
yang kadang sulit dikendalikan karena faktor-faktor tersebut bersifat dinamis.
Kalau dalam suasana proses pembelajaran, maka faktor-faktor yang dianggap akan
menghambat dapat dikendalikan melalui pengelolaan kelas yang baik. Paling
tidak, peserta didik telah mampu menunjukkan literasi budaya yang meningkat
kalaupun dominannya dalam ranah kognitif-pengetahuan. Sedangkan peningkatan
dalam ranah kognitif yang bersifat pengertian, aplikasi, analisis, sintesis dan
evaluasi masih relatif rendah.
Ada pun ranah pencapaian pembelajaran kognitif secara utuh terdiri dari :
a. Pengetahuan
yaitu kemampuan peserta didik untuk mengingatkan tentang materi yang pernah
dipelajari
b. Pengertian,
yaitu kemampuan peserta didik untuk menangkap arti pengertian suatu materi yang
telah dimengerti, mampu menginterpretasikan, membuat perkiraan, meramalkan
akibat dan konsekwensi yang dapat muncul
c. Aplikasi, yakni kemampuan peserta didik untuk
menggunakan bahan materi yang telah dipelajari dalam situasi nyata
d. Analisis,
yakni kemampuan peserta didik untuk memecahkan atau menguraikan materi dalam
bagian yang lebih kecil sehingga struktur organisasinya lebih jelas
e. Sintesis,
yakni kemampuan peserta didik untuk menyatukan bagian-bagian sehingga menjadi
kesatuan yang utuh dan berarti
f. Evaluasi,
yakni kemampuan peserta didik untuk menentukan suatu nilai materi berdasarkan
kriteria yang nyata, jelas dan obyektif
Apa jawaban
peserta didik ketika ditanya terkait dengan belum sepenuhnya mereka menghayati,
menfilter dan mengimplementasikan budaya dalam kehidupan sehari-hari ? Jawaban
mereka secara umum menyatakan bahwa ada faktor penyebabnya yaitu faktor pihak
yang memfasilitasi, figure dan faktor minat.
Pihak yang memfasilitasi
dalam arti orang perorang/kelompok/lembaga yang inten memberikan peluang kepada
peserta didik untuk lebih menguasai literasi budaya. Secara kuantitas, masih
terbatas di museum, lomba-lomba pada even dan areal tertentu. Untuk menjangkau
seluruh peserta didik di lingkungan pendidikan nonformal masih belum memenuhi
harapan.
Faktor kedua,
soal figure budaya yaitu orang yang dihormati dengan menampilkan budaya yang
baik dalam sikap dan perilakunya dan mampu mempromosikan produk budaya dengan
wilayah promosi yang meluas. Faktor ketiga, soal minat peserta didik dalam
menguasai budaya. Nampaknya minat peserta didik ini tidaklah cukup kuat untuk
mampu berliterasi budaya dalam kehidupan sehari-hari dengan menunjukkan sikap
dan perilaku budaya positif dan bangga akan produk budaya yang telah
dihasilkan.
Simpulan
Meningkatnya literasi budaya peserta
didik pendidikan nonformal-pendidikan kesetaraan melalui proses pembelajaran
sosiologi menggunakan metode belajar partisipatif dan media belajar yang
dianggap efektif. Secara materi, peserta didik meningkat dalam hal penguasaan
kognitif-pengetahuan yang berhubungan dengan 7 aspek kebudayaan bangsa dan
lokal Indonesia. Hanya dalam implementasi keseharian diluar proses pembelajaran
perlu diperhatikan faktor pihak yang menfasilitasi, faktor figure dan faktor
minat peserta didik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar