PENDIDIKAN NONFORMAL ITU ADA BUKAN DI ANTARA ADA DAN TIADA

Minggu, 23 Januari 2022

Literasi Budaya Peserta Didik Kesetaraan

 Abstrak

Literasi budaya merupakan salah satu jenis literasi dasar selain literasi baca-tulis-berhitung, sains, teknologi informasi dan komunikasi (TIK), keuangan, dan kewarganegaraan. Literasi budaya dalam arti luas merupakan kemampuan  bukan hanya sekedar kemampuan untuk membaca dan menulis namun menambah pengetahuan, keterampilan dan kemampuan yang dapat membuat seseorang memiliki kemampuan berpikir kritis, mampu memecahkan masalah dalam berbagai konteks, mampu  berkomunikasi secara efektif dan mampu mengembangkan potensi dan berpartisipasi aktif dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam kaitan ini literasi budaya yang akan diteliti adalah peningkatan literasi budaya peserta didik pendidikan nonformal-kesetaraan dalam proses pembelajaran sosiologi. Dengan metode deskriptif analitik menggunaikan teknik wawancara, observasi dan studi dokumentasi diperoleh hasil bahwa peserta didik meningkat literasi budaya dengan fokus pada penguasaan pengetahuan produk budaya bangsa dan lokal Indonesia berbentuk benda dan tata nilai dari 7 aspek kebudayaan yaitu bahasa, sistem pengetahuan, sistem kemasyarakatan, sistem peralatan hidup dan teknologi, sistem matapencaharian hidup, sistem religi, dan kesenian.  Hanya dalam menerapkan budaya dalam keseharian perlu diperhatikan faktor pihak yang menfasilitasi, faktor figure dan faktor minat peserta didik.

 

Kata kunci       : Literasi budaya, peserta didik, pendidikan kesetaraan, pembelajaran sosiologi

 

Pendahuluan

Perbedaan esensi antara makhluk manusia dengan makhluk lainnya adalah bahwa manusia memiliki akal budi. Dari akal budi itulah kemudian dapat melahirkan budaya.

Budaya pun berbeda-beda dan bermacam-macam seiring dengan beragam jenis species manusia di dunia. Di Indonesia sendiri, budaya ada yang bersifat nasional dan ada yang bersifat lokal yang digagas oleh para leluhur jaman dahulu.

Generasi kekinian sudah tentu berkewajiban untuk bagaimana mengetahui, memahami, menfilter hingga melaksanakan budaya leluhur yang dianggap positif yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Faktanya tidak seperti itu. Dalam arti, generasi sekarang cenderung belum tahu benar mengenai budaya leluhur tersebut secara detail. Bahkan ada yang menganggap bahwa budaya leluhur sudah ketinggalan jaman, tahayul, mitos dan anggapan miring lainnya. Benarkah demikian ?

Kondisi ini dapat disebut tidak berliterasi budaya dan patut diupayakan untuk bagaimana meningkatkan literasi budaya di kalangan generasi sekarang melalui jalur pendidikan formal maupun nonformal.

Pendidikan kesetaraan sebagai satu bentuk program  pendidikan nonformal, dalam pelaksanaannya membelajarkan peserta didik dalam berbagai matapelajaran. Andai itu program Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) maka sosiologi merupakan satu diantara sekian banyak mata pelajaran yang diajarkan.

Dalam pelajaran sosiologi tersebut ada materi yang berhubungan dengan budaya. Dengan materi ini merupakan lahan bagi tutor untuk memberikan peningkatan kemampuan literasi budaya kepada peserta didiknya.

Kuncinya adalah tutor mampu mempergunakan metode belajar dan media belajar yang tepat. Jika disampaikan dengan mempergunakan metode belajar yang bersifat partisipatif didukung oleh media belajar yang efektit sudah tentu materi dimaksud akan berdampak positif di mana peserta didik akan meningkatkan kemampuan literasi budaya.

Apa yang telah dilakukan tutor dalam proses pembelajaran sosiologi sehingga dapat meningkatkan kemampuan literasi budaya peserta didiknya ?

Dalam kaitan ini, akan diteliti tentang pemberian informasi budaya dengan mempergunakan metode pembelajaran yang bersifat partisipatif dan dengan mempergunakan media belajar yang dianggap efektif.

 

Kajian Teori

Menurut Alberta (2009) dalam https://www.scribd.com/document/357448366/Teori-Literasi-Buat-Yaser, arti literasi bukan hanya sekedar kemampuan untuk membaca dan menulis namun menambah pengetahuan, keterampilan dan kemampuan yang dapat membuat seseorang memiliki kemampuan berpikir kritis, mampu memecahkan masalah dalam berbagai konteks, mampu  berkomunikasi secara efektif dan mampu mengembangkan potensi dan berpartisipasi aktif dalam kehidupan bermasyarakat.

 Sedangkan untuk literasi budaya adalah kemampuan untuk mengetahui budaya yang dimiliki bangsa. Sasaran dari literasi budaya  adalah mengedukasi masyarakat terkait sejarah dan perspektif budaya . Bentuk kegiatan yang dapat dikembangkan dan dengan menyenangkan, antara lain: diskusi budaya, pameran budaya, pembelajaran budaya dan sebagainya.

Terkait dengan pembelajaran budaya sudah tentu melalui aktivitas pembelajaran untuk mata pelajaran yang materinya tentang budaya. Itulah pelajaran sosiologi. Batasan materi budaya itu apa saja ? batasan materi ada pada wilayah 7 unsur kebudayaan.

Merujuk pada pendapatnya Koentjaraningrat, bahwa ada 7 unsur kebudayaan yang sudah tentu dimiliki oleh setiap orang yang tergabung dalam sebuah kelompok tertentu. Dalam hal ini, fokus pada suku bangsa dan bangsa Indonesia.

Ketujuh unsur kebudayaan itu terdiri dari : bahasa, sistem pengetahuan, sistem kemasyarakatan, sistem peralatan hidup dan teknologi, sistem matapencaharian hidup, sistem religi dan kesenian .

Sesuai dengan teorinya bahwa materi ajar akan berhasil mencapai tujuan yaitu peserta didik menguasai materi jika mempergunakan media dan metode yang tepat. Metode pembelajaran yang dimaksud adalah metode pembelajaran partisipatif.  

Menurut Djudju Sudjana (1983:82) bahwa metode belajar partisipatif merupakan metode yang mengikutsertakan warga belajar dalam proses belajar mengajar.

Djudju Sudjana (1983:94-95) lebih lanjut mengatakan bahwa metode belajar partisipatif yang tercermin pada kegiatan belajar partitipatif memiliki ciri-ciri betikut :

a.    Berorientasi pada tujuan belajar (learning goal and objective oriented)

Ciri ini mengandung arti bahwa proses kegiatan belajar direncanakan, dilaksanakan dan diarahkan untuk mencapai tujuan belajar yang telah ditetapkan sebelumnya. Tujuan belajar itu pun disusun dengan mempertimbangkan latar belakang pengalaman warga belajar, potensi yang dimilikinya dan sumber-sumber yang tersedia pada lingkungan kehidupan mereka. Untuk itu, kebutuhan belajar, potensi dan sumber-sumber perlu diidentifikasi terlebih dahulu supaya peserta didik dapat menikmati suasana pembelajaran yang diikutinya

b.    Berpusat pada peserta didik (participant centered)

Kegiatan belajar yang dilakukan disesuaikan dengan latar belakang kehidupan peserta didik. Latar belakang kehidupan ini menjadi perhatian utama untuk dijadikan dasar penyusunan rencana proses kegiatan belajar baik untuk merumuskan langkah-langkah, materi, fasilitas dan evaluasi kegiatan belajar

             c.   Bertolak dari pengalaman belajar (experiential learning)

Hal ini berhubungan dengan pengalaman dalam melaksanakan tugas atau pekerjaan tentang cara-cara belajar yang telah dimiliki peserta didik. Dalam hal ini, proses belajar merupakan kegiatan belajar peserta didik yang dilakukan secara bersama-sama di dalam situasi pengalaman nyata baik pengalaman dalam tugas yang dilakukan sehari-hari maupun dengan menggunakan pengalaman yang diangkat dari tugas atau pekerjaan mereka sehari-hari. Tepatlah seperti dinyatakan oleh Irish Cully dalam “Aplikasi Teori Multiple Intellegence” (Winaldi, 2007:2) pada http://my.opera.com/winaldi/blog/2007/02/14/aplikasi-teori-multiple intelegence) bahwa people learn when they feel themselves to be participants in the events (orang belajar ketika mereka merasakan kebutuhannya dengan cara mereka terlibat dalam aktivitas tersebut-penulis).        

Metode ini merupakan metode yang memungkinkan peserta didik terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran. Jenis metode yang dapat dipergunakan antara lain: tanya jawab, diskusi, problem solving, studi kasus, penugasan, bermain peran, cawan ikan, dan simulasi.

Ada pun media yang efektif untuk mendukung proses pembelajaran tersebut adalah media audio visual berupa video berdurasi singkat dengan fokus materi yang dianggap esensi.

            Merujuk pada pendapatnya Abdul majid (2007:180), “Program
video/film biasanya disebut sebagai alat bantu pandang dengar (audio visual aids/audio visual media). Ada beberapa keuntungan yang di dapat jika materi ajar disajikan dalam bentuk video/film, antara lain:

a.       Dengan video/film seseorang dapat belajar sendiri

b.    Sebagai media pandang dengar video/film menyajikan situasi yang komunikatif dan dapat diulang-ulang

c.    Dapat menampilkan sesuatu yang detail dari benda yang
bergerak, kompleks, yang sulit dilihat dengan mata

d.   Video dapat dipercepat maupun di perlambat, dapat di ulang pada
bagian tertentu yang perlu lebih jelas, dan bahkan dapat diperbesar

e.    Memungkinkan pula untuk membandingkan antara dua adegan
berbeda diputar dalam waktu bersamaan

f.  Video juga dapat digunakan sebagai tampilan nyata dari suatu
adegan, mengangkat suatu situasi diskusi, dokumentasi, promosi
suatu produk, interview, dan menampilkan satu percobaan yang
berproses

 

Metode

Metode penelitian menggunakan m-etode deskriptif analitik dengan teknik wawancara, studi dokumentasi dan observasi. Populasi dan sampel  adalah tutor mata pelajaran sosiologi binaan SKB Kab. Sukabumi sebanyak 4 orang.dan peserta didik sebanyak 20 orang.

 

Hasil dan Pembahasan

A.  Pemberian informasi dengan metode belajar partisipatif

Peserta didik memperoleh informasi tentang budaya dengan beragam metode yang partisipatif yang menarik mereka untuk terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran. Secara berurut yang paling sering digunakan sampai yang kurang digunakan adalah metode tanya jawab, penugasan, studi kasus, pemecahan masalah dan simulasi.

Metode tanya jawab yang menekankan kepada inisiatif peserta didik untuk bertanya tentang apa yang belum diketahuinya tentang budaya dan ini mencerminkan rasa keingintahuan yang bersangkutan tentang materi yang sedang dipelajari ataupun yang bersangkutan memberikan komentar tentang apa yang sedang dipelajari tersebut. Ada rasa kesadaran peserta didik untuk mengungkapkan respon berupa bertanya ataupun menjawab.

Metode penugasan merupakan metode yang “mengkondisikan” peserta didik untuk mau memberikan jawaban ataupun mengerjakan tugas terkait dengan materi budaya. Awalnya mungkin seolah-olah dipaksa tetapi lama kelamaan hal itu akan menjadi bagian dari proses yang harus dilakukan dalam rangka menguasai materi budaya tersebut.

Metode studi kasus memberikan pembelajaran kepada peserta didik untuk menganalisis apa yang terjadi di lingkungan sekitar terkait dengan budaya, dicari apa saja yang dapat diambil hikmah dari kasus tersebut. Metode pemecahan masalah merupakan metode yang memberikan penekanan kepada bagaimana mengatasi permasalahan tertentu yang berhubungan dengan materi budaya. Sedangkan metode simulasi merupakan metode yang memberikan pembelajaran budaya dengan bentuk permainan.

Ciri utama dari metode belajar partisipatif adalah keaktifan peserta didik. Dalam hal ini, Menurut Sriyono dalam http;//ipotes Wordpress.com/2008/05/24/aktivitas siswa/ bahwa aktivitas adalah segala kegiatan yang dilaksanakan baik secara jasmani atau rohani. Aktivitas siswa selama proses belajar mengajar merupakan salah satu indikator adanya keinginan siswa untuk belajar. Aktivitas siswa merupakan kegiatan atau perilaku yang terjadi selama proses belajar mengajar.Kegiatan-kegiatan yang dimaksud adalah kegiatan yang mengarah pada proses belajar seperti bertanya,mengajukan pendapat,mengerjakan tugas-tugas,dapat menjawab pertanyaan guru dan bisa bekerjasama dengan siswa lain,serta tanggung jawab terhadap tugas yang diberikan.

Keaktifan siswa dalam proses pembelajaran akan menyebabkan interaksi yang tinggi antara guru dengan siswa ataupun dengan siswa itu sendiri.Hal ini akan mengakibatkan suasana kelas menjadi segar dan kondusif,dimana masing-masing siswa dapat melibatkan kemampuannya semaksimal mungkin.Aktivitas yang timbul dari siswa akan mengakibatkan pula terbentuknya pengetahuan dan keterampilan yang akan mengarah pada peningkatan prestasi.

B.  Pemberian informasi dengan media belajar yang efektif

Peserta didik memperoleh informasi tentang budaya dengan menyimak tayangan film video yang menekankan pesan tertentu. Video tersebut berdurasi singkat tapi berisi pesan padat sehingga tidak membosankan dan tidak mengesalkan menyaksikannya. Ada pun sumber video yang diambil dari youtube, tidak membuat sendiri mengingat untuk membuat sebuah video yang layak butuh peralatan dan keterampilan yang cukup. Paling yang dilakukan oleh tutor adalah melakukan editing untuk bagian-bagian tertentu disesuaikan dengan materi yang akan diajarkan dan waktu yang disetting sedemikian rupa tidak terlalu lama tapi tidak terlalu pendek. Rata-rata 20 – 30 menit untuk satu tayangan video. Sisa waktu pembelajaran digunakan oleh tutor untuk melakukan pembahasan dengan penekanan pada hal-hal yang dianggap penting untuk diketahui peserta didik.

Melalui video ini peserta didik dapat melihat, dan mendengarkan sekaligus terkait dengan materi budaya sehingga apa yang akan diperolehnya cukup lengkap. Apalagi kalau merujuk pada terori kerucut pengalaman dari Edgar Dale  bahwa kemampuan mendengar manusia sebesar 20% dan kemampuan melihat sebesar 30%, sedangkan perpaduan kemampuan mendengar dan melihat sebesar 50%. Itulah mengapa jika dikatakan bahwa media belajar melalui video dianggap efektif dalam memberikan wawasan budaya dalam proses pembelajaran.

 

C.  Hasil yang diperoleh peserta didik berhubungan dengan peningkatan literasi budaya

Peserta didik memperoleh wawasan yang cukup luas terkait dengan budaya ditinjau dari 7 aspek kebudayaan. Secara rinci peserta didik memperoleh peningkatan wawasan literasi budaya berhubungan dengan produk budaya bangsa Indonesia dan produk budaya lokal yang berwujud benda dan  yang berupa tata nilai dari 7 aspek kebudayaan. Peserta didik meningkat wawasannya dalam hal pengetahuan produk budaya berwujud benda terkait dengan bahasa, sistem mata pencaharian, sistem ilmu pengetahuan dan teknologi, sistem religi, kesenian. Peserta didik meningkat wawasannya dalam hal pengetahuan produk budaya berupa tata nilai terkait dengan bahasa, sistem pengetahuan, sistem kemasyarakatan, sistem peralatan hidup dan teknologi, sistem matapencaharian hidup, sistem religi dan kesenian. Sebagai penguatannya, pasca peserta didik memahami materi budaya dilakukan evaluasi dalam kurun waktu tertentu untuk mengetahui tingkat penguasaan bidang materi budaya tersebut. Bagi peserta didik mau tidak mau berusaha untuk mempersiapkan diri mengulang kembali apa yang telah dipelajari untuk mampu mengikuti evaluasi dengan hasil yang diinginkan pada kategori minimal cukup baik. Dengan demikian, lengkap sudah kemampuan literasi budaya peserta didik melalui proses pembelajaran dan diakhiri dengan evaluasi belajar sehingga diperoleh data dan informasi terkait dengan sampai di mana peningkatan literasi budaya tersebut.

Pemberian materi 7 aspek kebudayaan peserta didik sangat penting agar peserta didik tersebut tidak akan melupakan apa yang telah menjadi dan dihasilkan oleh leluhur terdahulu. Budaya itu sendiri menjadi kendali utama dalam membentuk karakter generasi kekinian dan yang akan datang.

Hanya peserta didik belum sepenuhnya mampu menghayati, menfilter dan mengimplementasikan nilai-nilai positif budaya dalam kehidupan sehari-hari secara konsisten. Konsistensi peserta didik baru pada tahap proses pembelajaran dalam literasi budayanya. Hal ini dapat dipahami, bahwa perilaku keseharian dipengaruhi oleh banyak faktor yang kadang sulit dikendalikan karena faktor-faktor tersebut bersifat dinamis. Kalau dalam suasana proses pembelajaran, maka faktor-faktor yang dianggap akan menghambat dapat dikendalikan melalui pengelolaan kelas yang baik. Paling tidak, peserta didik telah mampu menunjukkan literasi budaya yang meningkat kalaupun dominannya dalam ranah kognitif-pengetahuan. Sedangkan peningkatan dalam ranah kognitif yang bersifat pengertian, aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi masih relatif rendah.

Ada pun ranah pencapaian pembelajaran  kognitif secara utuh  terdiri dari :

a. Pengetahuan yaitu kemampuan peserta didik untuk mengingatkan tentang materi yang pernah dipelajari

b. Pengertian, yaitu kemampuan peserta didik untuk menangkap arti pengertian suatu materi yang telah dimengerti, mampu menginterpretasikan, membuat perkiraan, meramalkan akibat dan konsekwensi yang dapat muncul

c.  Aplikasi, yakni kemampuan peserta didik untuk menggunakan bahan materi yang telah dipelajari dalam situasi nyata

d. Analisis, yakni kemampuan peserta didik untuk memecahkan atau menguraikan materi dalam bagian yang lebih kecil sehingga struktur organisasinya lebih jelas

e. Sintesis, yakni kemampuan peserta didik untuk menyatukan bagian-bagian sehingga menjadi kesatuan yang utuh dan berarti

f. Evaluasi, yakni kemampuan peserta didik untuk menentukan suatu nilai materi berdasarkan kriteria yang nyata, jelas dan obyektif

 

Apa jawaban peserta didik ketika ditanya terkait dengan belum sepenuhnya mereka menghayati, menfilter dan mengimplementasikan budaya dalam kehidupan sehari-hari ? Jawaban mereka secara umum menyatakan bahwa ada faktor penyebabnya yaitu faktor pihak yang memfasilitasi, figure dan faktor minat.

Pihak yang memfasilitasi dalam arti orang perorang/kelompok/lembaga yang inten memberikan peluang kepada peserta didik untuk lebih menguasai literasi budaya. Secara kuantitas, masih terbatas di museum, lomba-lomba pada even dan areal tertentu. Untuk menjangkau seluruh peserta didik di lingkungan pendidikan nonformal masih belum memenuhi harapan.

Faktor kedua, soal figure budaya yaitu orang yang dihormati dengan menampilkan budaya yang baik dalam sikap dan perilakunya dan mampu mempromosikan produk budaya dengan wilayah promosi yang meluas. Faktor ketiga, soal minat peserta didik dalam menguasai budaya. Nampaknya minat peserta didik ini tidaklah cukup kuat untuk mampu berliterasi budaya dalam kehidupan sehari-hari dengan menunjukkan sikap dan perilaku budaya positif dan bangga akan produk budaya yang telah dihasilkan.

 

Simpulan

Meningkatnya literasi budaya peserta didik pendidikan nonformal-pendidikan kesetaraan melalui proses pembelajaran sosiologi menggunakan metode belajar partisipatif dan media belajar yang dianggap efektif. Secara materi, peserta didik meningkat dalam hal penguasaan kognitif-pengetahuan yang berhubungan dengan 7 aspek kebudayaan bangsa dan lokal Indonesia. Hanya dalam implementasi keseharian diluar proses pembelajaran perlu diperhatikan faktor pihak yang menfasilitasi, faktor figure dan faktor minat peserta didik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar