Mengapa hidupku begini-begini saja tidak seperti orang lain yang secara ekonomi lebih baik, nasibnya lebih mujur ? padahal pendidikannya tidak seberapa dibanding aku yang memiliki pendidikan di atas rata-rata orang yang tinggal di kampungku ini. Itu gumam Ana dalam hati.
Tetangga Ana yang satu ini
memang begitu berlimpah hartanya, ya mobilnya kalau dihitung dia punya mobil 7
buah. Mobil itu memang mobil sejenis truk untuk digunakan sebagai sarana
usaha dia. Belum lagi mobil pribadi dan tidak lupa motor sebanyak 2 buah. Wah
luar biasa tetanggaku itu.
Ana
sering merenung, memikirkan nasib ini yang tidak kunjung membaik meski
pendidikanku lebih baik dari orang lain. Padahal secara logika, katanya orang yang
berpendidikan akan mudah memperoleh apa yang diinginkan. Ternyata itu tidak
otomatis benar.
Ana lanjut merenung. “Adakalanya
orang yang berpendidikan justru hanya menjadi benalu saja, meski prestasi
segudang menumpuk belum tentu mempunyai kesejahteraan
secara ekonomi. Ada faktor yang tidak dapat terbantahkan dan itu menjadi
kewenangan penuh sang pencipta yaitu faktor nasib dan takdir”.
Tidak heran jika
banyak orang yang cenderung putus asa karena berbagai upaya yang telah
dilakukannya selalu nihil dan nihil terus. Dimanakah keadilan dari Sang
pencipta ? Muncul pepatah orang bijak bahwa manusia hanya bertugas untuk
berusaha sedangkan kepastian takdir dan nasib itu rahasia sang pencipta. Itu ungkapan perasaan Ana dalam hatinya.
Ana
pun sampai detik ini terus berusaha dan berusaha sesuai dengan kesempatan dan
kemampuan yang aku miliki meski sampai detik ini apa yang diharapkan belum
kunjung tiba. Kadang Ana merasa iri kepada orang lain yang dalam
waktu singkat dapat memperoleh apa yang diinginkannya.
Ana
mencoba introspeksi diri, mungkin ada yang salah dengan diriku atau mungkin
belum waktunya untuk mencapai apa yang diinginkanku. Kapankah tercapai tujuanku
? entahlah, hanya waktu yang mungkin dapat menjawabnya.
Ana amati
keadaan sekeliling yang mungkin dapat dijadikan pelajaran baginya
sekaligus mengendalikan emosi untuk tidak sampai memberontak menyalahkan
sang pencipta. Ana mencoba membandingkan, dua makhluk ciptaan
tuhan yang dinamakan dengan binatang kura-kura dan sang kancil.
Kura-kura
ditakdirkan untuk bergerak lamban jika berjalan, pasti kalah dengan sang kancil
yang gerak cepat ke sana ke sini. Tetapi keduanya masih dapat tetap hidup dan
memperoleh rijki makanan sesuai kesukaannya masing-masing.
Kura-kura
seolah-olah menikmati apa yang ada pada dirinya begitu pun sang kancil
menikmati apa yang dimilikinya tanpa satu sama lain saling menghambat. Apa
artinya ini bagiku ? Tanya Ana dalam hatinya lagi.
Ya,
Ana sadar bahwa apa yang terjadi yang
menimpa dirinya harus diterima
tanpa merasa sedih, tanpa putus asa akan tetapi tetap melakukan apa yang dapat dilakukan
dengan selalu meningkatkan kemampuan sedikit demi sedikit serta dapat
memanfaatkan setiap kesempatan yang ada. Siapa tahu pada akhirnya menjadi alat
mencapai tujuan.
Anapun
mulai beraktivitas kembali dengan penuh semangat. Prinsipnya, apa yang dapat
dikerjakan hari ini segera dilakukan tidak sampai ditunda-tunda karena khawatir
muncul sifat malas ataupun enggan.
Ana
akui bahwa penyakit yang sampai detik ini menghantui dan hampir selalu terjadi
adalah penyakit malas untuk berbuat karena sudah tertanam sejak awal
dalam hati buat apa bekerja toh akhirnya itu-itu juga hasilnya alias tidak ada
peningkatan yang berarti.
Itulah yang kata
orang ilmiah disebut sikap apriori. Padahal ajaran agama yangh diyakini Ana mengatakan tidak boleh berputus asa
bahkan ada ajaran khusus yang mengatakan bahwa bekerja lah kamu dengan giat
seolah-olah kamu akan hidup selamanya dan beribadah kamu dengan khusu
seolah-olah kamu akan mati besok.
Sebuah ajaran
yang bijak dengan mengharuskan sebagai manusia untuk selalu berusaha selama
hajat masih di kandung badan alias selama masih hidup dan sehat. Jangan
berpikir hasilnya apa kalaupun tetap berharap hasil yang dicapai adalah hasil
sebagaimana yang diinginkan. Kenapa demikian ? karena segala kepastian hanya
sang pencipta yang berwenang menentukan.
Orang disekitar Ana yang kasat
matanya hidup berlimpah serba berkecukupan menjadi faktor motivasi baginya
untuk bekerja secara cerdas agar mencapai hidup yang lebih baik. Hasil perenungannya
mengatakan bahwa bekerja keras tidaklah cukup harus disertai dengan kerja
cerdas. Kerja keras dengan mengeluarkan segala kemampuan yang ada bahkan kadang
melampuai batas waktu yang normal.
Sedangkan kerja
kerdas berarti memanfaatkan segala potensi yang ada dengan prinsip efesiensi
tetapi hasilnya dapat optimal. Itulah yang disebut prinsip ekonomi kata
ahli ekonomi.
Terus menerus Ana
berbuat sesuai kemampuan dengan memanfaatkan kesempatan yang ada, tiada
mengenal waktu karena ingin rasanya mencicipi kesenangan finansial seperti
halnya orang lain yang sudah menikmati lebih dulu.
Dan waktu terus
berlalu dari detik, menit, jam, hari minggu, bulan dan tahun. Sampai suatu
saat, ketika Ana duduk di pelataran rumah depan sambil
mengamati suasana alam sekeliling. Karena rumahnya di
pinggir jalan desa yang boleh dibilang jalan hidup, lalu lalang kendaraan roda
empat yang salah satunya dimiliki oleh tetangga Ana.
Pa, kapan ya
kita punya mobil seperti itu? Kata istri Ana
sambil telunjuknya mengarah ke mobil yang baru lewat di depan rumah itu. Ana
hanya tersenyum hambar, mendengar ucapan istrinya.
Bukannya tidak ada niat, bukannya tidak
ada kemauan tetapi memang kondisinya secara keuangan tidaklah cukup untuk hal
itu.
Padahal dia yang
punya mobil itu pendidikannya juga rendah tapi hebat ya usahanya sampai
menghasilkan uang hingga mampu membeli mobil ? ucap
istri Ana berikutnya.
Ucapan itu membuat hati Ana
agak tergores, seolah-olah istrinya
menyalahkannya karena tidak mampu seperti orang lain
yang punya mobil itu.
Seolah-olah
istrinya ingin mengatakan percuma bapak memiliki
pendididikan tinggi tapi toh tidak dapat dijadikan alat menghasilkan pendapatan
yang lebih banyak hanya sekedarnya saja. Ana
berusaha menahan amarah karena memang tidak pantas
marah ke istri.
Kenyataannya
memang demikian, Ana secara ekonomi tidaklah mampu
mensejahterakan keluarganya. Ketika Ana berada
di lokasi pekerjaan, di sela-sela waktu luang dari pekerjaan mencoba berpikir
cukup lama memikirkan nasib ini yang masih tak kunjung lebih baik.
Kemudian Ana
mencoba pula membuka berbagai informasi melalui internet tentang apa yang dapat
dilakukan untuk dapat hidup lebih baik dengan memperoleh penghasilan yang
mumpuni. Aku jangan putus asa! Begitu ucapan Ana dalam hati. Anapun
mencari informasi di internet itu.
Banyaklah
uraian-uraian yang menyarankan bagaimana dapat hidup lebih baik dengan
melakukan berbagai upaya yang bersifat halal, benar secara hukum dan tidak
melanggar etika sosial dalam masyarakat. Ternyata kalau aku tarik kesimpulan
dari berbagai tulisan di internet itu, ada dua hal yang harus selalu dilakukan
secara berimbang yaitu USAHA dan DOA. Ana pun mengusap
dada.
Usaha jelas
adalah merupakan aktivitas riil Ana dengan
melakukan pekerjaan sesuai dengan kemampuan. Baik itu aktivitas pokok bekerja
maupun pekerjaan tambahan. Hanya tidak cukup melakukan itu harus disertai
dengan doa.
Doa tidak lain
adalah ibadah ritual sesuai dengan keyakinan. Ya, Anapun
dengan sekuat tenaga melakukan Usaha dan Doa tersebut.
Usaha apa yang Ana
lakukan ? usaha dari pekerjaan tetap sudah jelas itu ada upah
yang diterima meski itu tidak cukup untuk kehidupan
sehari-hari. Yang lebih Ana maksudkan adalah bagaimana usaha
tambahannya yang mampu meningkatkan pendapatan ?
Dengan berbagai
resiko yang akan terjadi, Ana coba berbuat
dengan melakukan usaha tambahan dalam skala kecil misalnya buka jualan pulsa,
buka usaha fhotokopi dan jasa pembuatan fhoto.
Secara nominal, Ana
peroleh sedikit demi sedikit meski tumpang tindih dengan kebutuhan sehari-hari.
Sampai ada orang yang usil juga atas apa yang Ana
lakukan. Begini bilangnya, masih juga orang itu usaha di rumah ga cukup dengan
gaji yang dia terima ? Seolah-olah yang boleh buka usaha di rumah hanya mereka
kalau Ana dilarang keras. Pada hal apa urusannya,
kalau dipikir. Selama ini tidak pernah Ana usil
sama mereka.
Ana
katakan pada mereka, “ memang ada aturannya aku tidak boleh buka usaha di rumah
?” kalau ada aturan yang mana ? istri sendiri sampai berucap “ ya, orang itu ga
senang kalau kita maju takut tersaingi !” Bolehlah ada rasa takut tersaingi
tapi jangan dengan cara begitu menjelekan orang, komentar Ana.
Memang sangkaan
orang Ana itu punya gaji besar, sehingga tidak
perlu lah buka usaha macam-macam. Dengan gaji sebesar itu dianggap mereka lebih
dari cukup. Pada hal yang Ana rasakan
tidaklah demikian, jadi tidak benar sangkaan orang itu.
Rasa marah Ana kadang muncul,
hingga ada niat untuk buka toko sembako sekalian menyaingi usaha yang telah
dilakukan tetangga selama ini. Hanya dipikir lagi, itu tidak baik sama halnya
dengan Ana menjatuhkan usaha orang lain. Niat itu Ana
urungkan lagi untuk kesekian kalinya.
Ana berpikir
ulang, usaha apa lagi yang dapat menambah penghasilan ? itu pertanyaanya dalam hati. Dari
obrolan-obrolah Ana dan istri, muncul ide untuk memulai
usaha budidaya ayam kampung. Kata mertua Ana,
silakah itu bagus ! lahan ada, cukup luas, tinggal kemauan untuk memulainya !.
Secara
perhitungan memang budidaya ayam kampung itu cukup menjanjikan. Apalagi sudah
ada beberapa pihak usaha rumah makan yang meminta pesanan perhari sekian ekor. Dari sisi ini memang tidak akan berhentinya
permintaan pasar mengingat kebutuhan terhadap ayam kampung selalu ada dan
jumlahnya banyak, tidak akan kehilangan order rasanya.
Dan ketika
ditelusuri, di kampung Ana
selama ini belum ada yang membuka usaha budidaya ayam kampung sehingga jika Ana
lakukan tidak akan ada saingan yang berarti dan keuntungan secara di atas
kertas sudah nampak jelas.
Segera Ana
melangkah perlahan tapi pasti untuk hal ini. Tentunya, Ana
harus mulai dengan membenahi areal lahan budidaya ayam kampung tersebut yang
sebenarnya sudah tersedia. Dengan bergotong royong di antara keluarga, mulailah
menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk membuat kandang ayam kampung
tersebut yang dianggap layak.
Ana
sendiri mencari pihak yang dapat menyediakan bibit ayam kampung. Ketika kandang
beres, dan bibit sudah tersedia dengan bismilah Ana dibantu
istri mulai buka budidaya ayam kampung sebagai usaha tambahan yang mungkin
dapat diandalkan ke depannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar