PENDIDIKAN NONFORMAL ITU ADA BUKAN DI ANTARA ADA DAN TIADA

Minggu, 23 Januari 2022

Catatan Hidup Ana

Mengapa hidupku begini-begini saja tidak seperti orang lain yang secara ekonomi lebih baik, nasibnya lebih mujur ? padahal pendidikannya tidak seberapa dibanding aku yang memiliki pendidikan di atas rata-rata orang yang tinggal di kampungku ini. Itu gumam Ana dalam hati.

Tetangga Ana yang satu ini memang begitu berlimpah hartanya, ya mobilnya kalau dihitung dia punya mobil 7 buah. Mobil itu memang mobil sejenis truk untuk digunakan sebagai sarana usaha dia. Belum lagi mobil pribadi dan tidak lupa motor sebanyak 2 buah. Wah luar biasa tetanggaku itu.

Ana sering merenung, memikirkan nasib ini yang tidak kunjung membaik meski pendidikanku lebih baik dari orang lain. Padahal secara logika, katanya orang yang berpendidikan akan mudah memperoleh apa yang diinginkan. Ternyata itu tidak otomatis benar.

Ana lanjut merenung. “Adakalanya orang yang berpendidikan justru hanya menjadi benalu saja, meski prestasi segudang menumpuk belum tentu mempunyai kesejahteraan secara ekonomi. Ada faktor yang tidak dapat terbantahkan dan itu menjadi kewenangan penuh sang pencipta yaitu faktor nasib dan takdir.

Tidak heran jika banyak orang yang cenderung putus asa karena berbagai upaya yang telah dilakukannya selalu nihil dan nihil terus. Dimanakah keadilan dari Sang pencipta ? Muncul pepatah orang bijak bahwa manusia hanya bertugas untuk berusaha sedangkan kepastian takdir dan nasib itu rahasia sang pencipta. Itu ungkapan perasaan Ana dalam hatinya.

Ana pun sampai detik ini terus berusaha dan berusaha sesuai dengan kesempatan dan kemampuan yang aku miliki meski sampai detik ini apa yang diharapkan belum kunjung tiba. Kadang Ana merasa iri kepada orang lain yang dalam waktu singkat dapat memperoleh apa yang diinginkannya.

Ana mencoba introspeksi diri, mungkin ada yang salah dengan diriku atau mungkin belum waktunya untuk mencapai apa yang diinginkanku. Kapankah tercapai tujuanku ? entahlah, hanya waktu yang mungkin dapat menjawabnya.

Ana amati keadaan sekeliling yang mungkin dapat dijadikan pelajaran baginya sekaligus mengendalikan emosi  untuk tidak sampai memberontak menyalahkan sang pencipta. Ana mencoba membandingkan, dua makhluk ciptaan tuhan yang dinamakan dengan binatang kura-kura dan sang kancil.

Kura-kura ditakdirkan untuk bergerak lamban jika berjalan, pasti kalah dengan sang kancil yang gerak cepat ke sana ke sini. Tetapi keduanya masih dapat tetap hidup dan memperoleh rijki makanan sesuai kesukaannya masing-masing.

Kura-kura seolah-olah menikmati apa yang ada pada dirinya begitu pun sang kancil menikmati apa yang dimilikinya tanpa satu sama lain saling menghambat. Apa artinya ini bagiku ? Tanya Ana dalam hatinya lagi.

Ya, Ana sadar bahwa apa yang terjadi yang menimpa dirinya harus diterima tanpa merasa sedih, tanpa putus asa akan tetapi tetap melakukan apa yang dapat dilakukan dengan selalu meningkatkan kemampuan sedikit demi sedikit serta dapat memanfaatkan setiap kesempatan yang ada. Siapa tahu pada akhirnya menjadi alat mencapai tujuan.  

Anapun mulai beraktivitas kembali dengan penuh semangat. Prinsipnya, apa yang dapat dikerjakan hari ini segera dilakukan tidak sampai ditunda-tunda karena khawatir muncul sifat malas ataupun enggan.

Ana akui bahwa penyakit yang sampai detik ini menghantui dan hampir selalu terjadi adalah penyakit malas untuk berbuat karena sudah tertanam sejak awal dalam hati buat apa bekerja toh akhirnya itu-itu juga hasilnya alias tidak ada peningkatan yang berarti.

Itulah yang kata orang ilmiah disebut sikap apriori. Padahal ajaran agama yangh diyakini Ana mengatakan tidak boleh berputus asa bahkan ada ajaran khusus yang mengatakan bahwa bekerja lah kamu dengan giat seolah-olah kamu akan hidup selamanya dan beribadah kamu dengan khusu seolah-olah kamu akan mati besok.

Sebuah ajaran yang bijak dengan mengharuskan sebagai manusia untuk selalu berusaha selama hajat masih di kandung badan alias selama masih hidup dan sehat. Jangan berpikir hasilnya apa kalaupun tetap berharap hasil yang dicapai adalah hasil sebagaimana yang diinginkan. Kenapa demikian ? karena segala kepastian hanya sang pencipta yang berwenang menentukan.

Orang disekitar Ana yang kasat matanya hidup berlimpah serba berkecukupan menjadi faktor motivasi baginya untuk bekerja secara cerdas agar mencapai hidup yang lebih baik. Hasil perenungannya mengatakan bahwa bekerja keras tidaklah cukup harus disertai dengan kerja cerdas. Kerja keras dengan mengeluarkan segala kemampuan yang ada bahkan kadang melampuai batas waktu yang normal.

Sedangkan kerja kerdas berarti memanfaatkan segala potensi yang ada dengan prinsip efesiensi tetapi hasilnya dapat optimal. Itulah yang disebut prinsip ekonomi kata ahli ekonomi.

Terus menerus Ana berbuat sesuai kemampuan dengan memanfaatkan kesempatan yang ada, tiada mengenal waktu karena ingin rasanya mencicipi kesenangan finansial seperti halnya orang lain yang sudah menikmati lebih dulu.

Dan waktu terus berlalu dari detik, menit, jam, hari minggu, bulan dan tahun. Sampai suatu saat, ketika Ana duduk di pelataran rumah depan sambil mengamati suasana alam sekeliling. Karena rumahnya di pinggir jalan desa yang boleh dibilang jalan hidup, lalu lalang kendaraan roda empat yang salah satunya dimiliki oleh tetangga Ana.

Pa, kapan ya kita punya mobil seperti itu? Kata istri Ana sambil telunjuknya mengarah ke mobil yang baru lewat di depan rumah itu. Ana hanya tersenyum hambar, mendengar ucapan istrinya. Bukannya tidak ada  niat, bukannya tidak ada kemauan tetapi memang kondisinya secara keuangan tidaklah cukup untuk hal itu.

Padahal dia yang punya mobil itu pendidikannya juga rendah tapi hebat ya usahanya sampai menghasilkan uang hingga mampu membeli mobil ? ucap istri Ana berikutnya. Ucapan itu membuat hati Ana agak tergores, seolah-olah istrinya menyalahkannya karena tidak mampu seperti orang lain yang punya mobil itu.

Seolah-olah istrinya ingin mengatakan percuma bapak memiliki pendididikan tinggi tapi toh tidak dapat dijadikan alat menghasilkan pendapatan yang lebih banyak hanya sekedarnya saja. Ana berusaha menahan amarah karena memang tidak pantas marah ke istri.

Kenyataannya memang demikian, Ana secara ekonomi tidaklah mampu mensejahterakan keluarganya. Ketika Ana berada di lokasi pekerjaan, di sela-sela waktu luang dari pekerjaan mencoba berpikir cukup lama memikirkan nasib ini yang masih tak kunjung lebih baik.

Kemudian Ana mencoba pula membuka berbagai informasi melalui internet tentang apa yang dapat dilakukan untuk dapat hidup lebih baik dengan memperoleh penghasilan yang mumpuni. Aku jangan putus asa! Begitu ucapan Ana dalam hati. Anapun mencari informasi di internet itu.

Banyaklah uraian-uraian yang menyarankan bagaimana dapat hidup lebih baik dengan melakukan berbagai upaya yang bersifat halal, benar secara hukum dan tidak melanggar etika sosial dalam masyarakat. Ternyata kalau aku tarik kesimpulan dari berbagai tulisan di internet itu, ada dua hal yang harus selalu dilakukan secara berimbang yaitu USAHA dan DOA. Ana pun mengusap dada.

Usaha jelas adalah merupakan aktivitas riil Ana dengan melakukan pekerjaan sesuai dengan kemampuan. Baik itu aktivitas pokok bekerja maupun pekerjaan tambahan. Hanya tidak cukup melakukan itu harus disertai dengan doa.

Doa tidak lain adalah ibadah ritual sesuai dengan keyakinan. Ya, Anapun dengan sekuat tenaga melakukan Usaha dan Doa tersebut.

Usaha apa yang Ana lakukan ? usaha  dari pekerjaan tetap sudah jelas itu ada upah yang diterima meski itu tidak cukup untuk kehidupan sehari-hari. Yang lebih Ana maksudkan adalah bagaimana usaha tambahannya yang mampu meningkatkan pendapatan ?  

Dengan berbagai resiko yang akan terjadi, Ana coba berbuat dengan melakukan usaha tambahan dalam skala kecil misalnya buka jualan pulsa, buka usaha fhotokopi dan jasa pembuatan fhoto.

Secara nominal, Ana peroleh sedikit demi sedikit meski tumpang tindih dengan kebutuhan sehari-hari. Sampai ada orang yang usil juga atas apa yang Ana lakukan. Begini bilangnya, masih juga orang itu usaha di rumah ga cukup dengan gaji yang dia terima ? Seolah-olah yang boleh buka usaha di rumah hanya mereka kalau Ana dilarang keras. Pada hal apa urusannya, kalau dipikir. Selama ini tidak pernah Ana usil sama mereka.

Ana katakan pada mereka, “ memang ada aturannya aku tidak boleh buka usaha di rumah ?” kalau ada aturan yang mana ? istri sendiri sampai berucap “ ya, orang itu ga senang kalau kita maju takut tersaingi !” Bolehlah ada rasa takut tersaingi tapi jangan dengan cara begitu menjelekan orang, komentar Ana.

Memang sangkaan orang Ana itu punya gaji besar, sehingga tidak perlu lah buka usaha macam-macam. Dengan gaji sebesar itu dianggap mereka lebih dari cukup. Pada hal yang Ana rasakan tidaklah demikian, jadi tidak benar sangkaan orang itu.

Rasa marah Ana kadang muncul, hingga ada niat untuk buka toko sembako sekalian menyaingi usaha yang telah dilakukan tetangga selama ini. Hanya dipikir lagi, itu tidak baik sama halnya dengan Ana menjatuhkan usaha orang lain. Niat itu Ana urungkan lagi untuk kesekian kalinya.

Ana berpikir ulang, usaha apa lagi yang dapat menambah penghasilan ? itu pertanyaanya dalam  hati. Dari obrolan-obrolah Ana dan istri, muncul ide untuk memulai usaha budidaya ayam kampung. Kata mertua Ana, silakah itu bagus ! lahan ada, cukup luas, tinggal kemauan untuk memulainya !.

Secara perhitungan memang budidaya ayam kampung itu cukup menjanjikan. Apalagi sudah ada beberapa pihak usaha rumah makan yang meminta pesanan perhari sekian ekor.  Dari sisi ini memang tidak akan berhentinya permintaan pasar mengingat kebutuhan terhadap ayam kampung selalu ada dan jumlahnya banyak, tidak akan kehilangan order rasanya.

Dan ketika ditelusuri, di kampung Ana selama ini belum ada yang membuka usaha budidaya ayam kampung sehingga jika Ana lakukan tidak akan ada saingan yang berarti dan keuntungan secara di atas kertas sudah nampak jelas.

Segera Ana melangkah perlahan tapi pasti untuk hal ini. Tentunya, Ana harus mulai dengan membenahi areal lahan budidaya ayam kampung tersebut yang sebenarnya sudah tersedia. Dengan bergotong royong di antara keluarga, mulailah menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk membuat kandang ayam kampung tersebut yang dianggap layak.

Ana sendiri mencari pihak yang dapat menyediakan bibit ayam kampung. Ketika kandang beres, dan bibit sudah tersedia dengan bismilah Ana dibantu istri mulai buka budidaya ayam kampung sebagai usaha tambahan yang mungkin dapat diandalkan ke depannya.

Di sela Ana ada waktu habis bekerja, garapan pekerjaannya sekarang bertambah dengan melakukan usaha budidaya ayam kampung. Dengan penuh rasa optimisme, mudah-mudahan usaha ini menjadi jalan terbaik ke depan dalam meningkatkan kesejahteraan keluarga

Tidak ada komentar:

Posting Komentar